THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Rabu, 10 Maret 2010


Tidak ada Kewajiban Memuliakan Tamu yang Menumpahkan Darah Jutaan Umat Islam !

“Kalau menolak kedatangan Obama tidak bisa kita lakukan, apa yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan pembelaan kita terhadap saudara yang menderita akibat penjajahan Amerika ?”, (Ismail Yusanto)

HTI-Press. Pernyataan beberapa pihak yang menerima Obama dengan dalih menghormati tamu ditolak Hizbut Tahrir Indonesia. Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia, Muhammad Ismail Yusanto, mengatakan Obama memang tamu. Tapi tamu itu ada dua macam. Tamu yang baik dan tamu yang bermasalah. Obama adalah jenis tamu yang kedua, karena dia hingga sekarang terus menghancurkan negeri-negeri Muslim dan membunuhi umat Islam di berbagai negara.

Menurut Ismail , Obama adalah presiden dari sebuah negara yang saat ini jelas-jelas tengah menjajah negeri Muslim, seperti Irak dan Afghanistan. AS juga terus menyerang wilayah perbatasan Pakistan dan Afghanistan. Akibatnya, negara-negara itu kini hancur berantakan. Bukan hanya secara fisik, tapi juga secara sosial, politik, ekonomi dan budaya. Tak terhitung besarnya kerugian yang ditimbulkan. Ratusan ribu bahkan mungkin jutaan rakyat di sana meninggal karenanya.

Menurut penelitian John Hopkins University, akibat invasi AS ke Irak sejak tahun 2003 lebih dari 1 juta warga sipil Irak tewas. Siapa yang harus bertanggung jawab atas semua tragedi ini? Amerika Serikat tentu. Dan kini negara itu dipimpin oleh Obama. Memang dulu ketika AS menginvasi Irak dan Afghanistan, AS dipimpin oleh Presiden Bush. Tapi Obama tidak mengubah kebijakan biadab itu. Memang pernah ada rencana untuk menarik pasukan dari Irak tapi hingga sekarang belum diwujudkan. Ia bahkan sudah memutuskan menambah 30 ribu pasukan ke Afghanistan. Itu artinya tingkat kerusakan dan penderitaan rakyat di sana, termasuk yang kemungkinan bakal tewas, akan meningkat.

Masih menurut Ismail, Obama tidak jauh beda dengan Bush, yang tangannya berlumuran darah dan yang tidak memiliki rasa belas kasih sedikitpun. Ia misalnya, hingga sekarang tidak sedikitpun mengungkapkan rasa simpati terhadap para korban tragedi Gaza setahun lalu. Jangankan simpati terhadap korban atau kutukan terhadap pelaku, menyinggung peristiwa itu saja tidak pernah ia lakukan. Dalam pidato inagurasi atau pelantikannya sebagai Presiden, tak sedikitpun ia menyinggung soal Gaza. Padahal itu peristiwa besar dengan korban lebih dari 1.300 orang tewas, yang telah menarik perhatian masyarakat dunia. Tapi bagi Obama, tragedi Gaza itu seolah tidak pernah ada.

Ketika ditanya bukankah Rosulullah saw mewajibkan memuliakan tamu meskipun kafir ? Ismail menjawab, benar, kalau tamu itu bermaksud baik dan tidak melakukan kejahatan terhadap umat Islam seperti ingin menuntut Ilmu atau mengetahui Islam. Atau tamu itu merupakan utusan negara musuh yang akan membicarakan perundingan damai dengan umat Islam, itupun dengan catatan menghentikan peperangannya dulu, baru berunding.

Karena itu untuk bisa diterima Obama sebagai tamu yang baik, Obama haruslah terlebih dahulu memerintahkan untuk menghentikan kejahatan Amerika di seluruh dunia Islam, menarik pasukan dari Irak, Afghanistan, Pakistan, termasuk tidak lagi mendukung Israel yang terus membunuh umat Islam. “Tapi Obama datang ke Indonesia sama sekali bukan membicarakan hal itu, bagaimana kita menyambut tamu sementara tangan tamu itu masih menghunuskan pisau yang berlumuran darah saudara kita, umat Islam ?”, Tanya Ismail Yusanto.

Ismail kemudian mengutip Hadits Rosulullah saw :

مَنْ ذَبَّ عَنْ عَرَضِ أَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يَعْتِقَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang melindungi kehormatan saudaranya pada saat tidak berada di dekatnya, maka Allah pasti akan membebaskannya dari api neraka”.[HR. Ishaq bin Rahwiyyah dari Asma' binti Yazid]

” Wujud pembelaan seorang Muslim terhadap kaum Muslim di Irak, Afghanistan, Pakistan, Palestina yang saat ini tengah menghadapi invasi militer Amerika, adalah menolak kunjungan, kerjasama, maupun intervensi non fisik dari penguasa-penguasa kafir imperialis dan antek-anteknya, semacam Amerika, Inggris, dan Israel. Kalau menolak kedatangan Obama tidak bisa kita lakukan, apa yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan pembelaan kita terhadap saudara kita ?”, tanya Ismail .

Ibnu Hisyam dalam As Sirah An Nabawiyyah meriwayatkan bagaimana sikap Rasulullah saw terhadap Abu Sofyan pemimpin kafir Quraisy (yang juga mertua Rosulullah saw) , beliau saw sama sekali tidak menggubris kedatangannya, bahkan beliau siap menyerang Mekah, karena pengkhianatan kaum Quraisy terhadap perjanjian Hudaibiyyah. Nabi saw tidak pernah menerima dan menyambut Abi Sofyan bin Harb dengan penyambutan kenegaraan yang menunjukkan rasa hormat dan belas kasih, namun beliau saw memperlakukan Abu Sofyan ra dengan sangat keras, hingga harga diri dan kesombongan Abu Sofyan luruh bagaikan sekawanan laron yang tersambar api pelita.

Artinya terhadap utusan yang membicarakan perdamaian dengan umat Islam saja diperlakukan dengan buruk oleh Rosulullah saw karena telah mengkhianti kesepakatan damai. Sementara Obama datang bukan untuk perundingan menghentikan kejahatan perangnya terhadap umat Islam.

Lalu, dari arah mana bisa dinyatakan bahwa para penguasa negeri-negeri Islam wajib menerima, menyambut, dan memulyakan tamu dari kalangan para penguasa kafir yang lalim dan dzalim itu, dengan alasan bahwa Nabi saw pernah menerima dan menyambut Abu Sofyan bin Harb? Padahal, bukankah Nabi saw jelas-jelas menolak dan tidak menggubris kedatangan Abu Sofyan bin Harb, begitu pula sikap para shahabat? Atas dasar itu, menggunakan kisah kedatangan Abu Sofyan ke Madinah adalah istinbath yang keliru dan mengada-ada.(FW)


Antara PemberantasanTerorisme dan Reality Show Termehek-Termehek"

Masih ingat dibenak kita, bagaimana Detasemen Khusus (Densus) 88 menggerebek dan menembak mati di tempat Noordin M Top. Kala itu, kru TV meliputnya bak acara reality show "Termehek-Mehek" atau "Orang Ketiga" atau bahkan "Mata-Mata" yang dipandu Joe Padhyangan Project. Publik antara percaya atau tidak (bahwa itu rekayasa) mencicipi tayangan tersebut.

Ya, itulah Indonesia. Pemberantasan terorisme terkadang menjadi pengalih isu publik. Saat ini, isu yang harus dikawal adalah kedatangan Obama yang perlu disikapi politis oleh publik Muslim, mengingat Obama datang di Indonesia bukan sebagai seorang Obama, melainkan jelas sebagai Kepala negara sekaligus pemerintahan penjajah, yang selalu menebar teror di negeri-negeri Islam.


Kemudian, isu kenaikan Tarif Dasar Listrik yang akan diajukan ke DPR dalam APBNP sebesar 15% dan kemungkinan kenaikan BBM, serta yang terakhir adalah kasus Bank Century. Dengan terorisme ini, praktis isu-isu tersebut hilang dan kabur. Berganti dengan terorisme dan sejumlah pengamat-pengamat terorisme yang lagi-lagi tidak jelas jejak rekamnya. Bahkan melupakan substansi masalah dari terorisme itu sendiri, yaitu: ketidakadilan dan penjajahan yang diciptakan oleh ideologi kapitalisme. Tidaklah mengherankan apabila pemberitaan yang liar tentang terorisme akhirnya lebih menyentuh kepada hal-hal yang simbolik, misalnya, bila ada wanita menggunakan cadar dan jilbab (pakaian gamis) gelap, maka suaminya atau laki-laki yang bersamanya adalah teroris. Begitupula, bila ada ustadz berjanggut, berperawakan gempal, menggunakan pakaian ala Taliban dengan celana se mata kaki, maka patut dicurigai teroris. Ini merupakan stigma, black stereotyping, ibarat bola liar dan panas, akan menyentuh kepada siapapun. Walhasil, akan saling muncul curiga, kekhawatiran, ketidaknyamanan di lingkungan sekitar, dan tentu saja dakwah Islam akan terhambat.

Di era 1980an, fenomena terorisme dan gerakan radikal pernah terjadi. Komando Jihad, Jamaah Imran hingga pecahnya Komando WIlayah (KW) DI/NII. Kepiawaian Letjen Ali Murtopo, Laksamana Benny Moerdani dan CSIS dalam mempolitisasi masalah ini. Hasilnya, publik Muslim alergi dengan gerakan, organisasi dan jamaah Islam, mensakralkan asas tunggal Pancasila, padamnya cara pandang kritis dan tentunya maraknya syirik, bid'ah, dan percampuran agama. Ustadz, ulama bahkan kiyai harus memiliki surat izin berdakwah, dengan tema-tema dakwah yang dipesan.

Jika ada ulama atau dai yang kritis, maka bersiaplah dipenjarakan dan dicap melakukan tindakan makar dan subversif. Itulah potrem hitam Muslim yang dibayang-bayangi dengan terorisme.

Hari ini kita melihat, aksi-aksi heroik Densus 88 yang secara live dipantau oleh kru TV bak reality show. Tersirat show of force kepolisian disaat lembaga ini disorot dalam kaitannya dengan kriminalisasi mahasiswa di Makasar. Seharusnya kita tidak boleh lupa, tokoh-tokoh kunci seperti Hambali, Umar Al-Farouq atau bahkan operator-operator yang memegang komando di lapangan seperti Dr. Azhari, Noordin M Top, tewas. Ketiadaan tokoh-tokoh kunci ini semakin memperkuat spekulasi bahwa gerakan radikal dan terorisme dimanfaatkan oleh banyak kepentingan. Salah satunya adalah kepentingan dalam membuat stereotyping bahwa Islam adalah agama teror. Terlebih lagi, bagi kelompok Islam yang menginginkan penegakan syariah.

Padahal kehadiran Hambali sangat penting untuk membuka penyandang dana, aliran dana, hingga bahan-bahan C4 (mikro nuklir) yang notabene hanya dapat dibuat di Israel dan AS. Dan sangat penting pula untuk membuka kemungkinan "double agent" atau "planted agent" yang dulu pernah terjadi saat perang Afghanistan.

Saya sangat meyakini bahwa membangun masyarakat Islam dan sekaligus menerapkan SyariahNya harus ditempuh dengan cara-cara yang mencerdaskan. Pembinaan publik, sosialisasi syariah hingga publik menyepakati bahwa Islam itu penting bagi dirinya dan publiknya. Sehingga, publiklah yang menginginkan penerapan hukum-hukum Islam tersebut, tidak dengan cara fisik. Karena Rasulullah Saw mencontohkan dakwahnya secara fikriyyah (pemikiran), tidak dengan kekuatan senjata. Saat ini, seharusnya kelompok-kelompok Islam berfokus kepada upaya MengIslamkan Umat Islam, dalam pengertian, memahamkan kembali pemikiran-pemikiran Islam, syariahnya kepada publik, menghadirkan kembali Allah dalam setiap sisi kehidupan. Dengan seperti itu, kesatuan umat Islam yang kita cita-citakan dapat terbangun, dan kita dapat menghentikan penderitaan dan hegemoni kapitalisme di seluruh dunia..